
Lebih bagus Tepung beras atau Tepung Terigu
Setidaknya ada 5 perbedaan tepung beras dan tepung terigu yang paling signifikan. Seperti Asal bahan baku, tekstur, sifat fisik, kandungan nutrisi, gluten, kegunaan dan karakter produk
“Tepung beras dan tepung terigu adalah dua jenis tepung yang sangat umum digunakan dalam dunia kuliner, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar yang memengaruhi hasil akhir masakan.
Memahami perbedaan ini krusial bagi para koki rumahan maupun profesional untuk menciptakan hidangan yang optimal.
Tepung terigu, yang berasal dari biji gandum, dikenal karena kandungan glutennya yang memberikan elastisitas pada adonan, menjadikannya pilihan utama untuk roti dan produk panggang lainnya.
Sementara itu, tepung beras, yang terbuat dari gilingan beras, menawarkan tekstur yang berbeda tanpa gluten, sehingga cocok untuk kue tradisional dan hidangan yang membutuhkan kelembutan dan kekenyalan tertentu.
Dalam konteks kuliner Indonesia, kedua tepung ini memainkan peran penting dalam menciptakan beragam hidangan.
Tepung beras sering menjadi tulang punggung kue-kue basah tradisional seperti bubur sumsum dan kue talam, memberikan kelembutan khas yang sulit ditiru.
Di sisi lain, tepung terigu menjadi primadona dalam pembuatan roti, mie dan berbagai macam kue kering serta jajanan pasar yang membutuhkan struktur yang kokoh dan kemampuan mengembang.
Perbedaan dalam bahan dan proses pengolahan inilah yang menghasilkan karakteristik unik pada masing-masing tepung, membuka peluang kreasi kuliner yang tak terbatas.
Pemilihan antara tepung beras dan tepung terigu bukan sekadar masalah preferensi, melainkan sebuah keputusan teknis yang didasarkan pada hasil yang diinginkan.
Apakah Anda ingin membuat roti yang mengembang sempurna, kue yang legit atau gorengan yang renyah, pemahaman mendalam tentang sifat masing-masing tepung akan sangat membantu.
Artikel ini selanjutnya akan mengupas tuntas perbedaan antara tepung beras dan tepung terigu, mulai dari asal bahan baku, tekstur, kandungan nutrisi, hingga kegunaan spesifiknya dalam berbagai resep masakan.
Beda Tepung Beras vs Tepung Terigu
1. Asal Bahan Baku
Perbedaan paling mendasar antara tepung beras dan tepung terigu terletak pada asal bahan bakunya. Tepung terigu, sesuai namanya, kita olah dari biji gandum (Triticum spp.).
Gandum ini kemudian kita giling hingga menjadi bubuk halus yang siap digunakan.
Kualitas dan jenis gandum yang digunakan akan memengaruhi karakteristik tepung terigu yang dihasilkan, seperti kadar proteinnya yang menentukan kekuatan gluten.
Berbeda halnya dengan tepung beras, bahan dasarnya adalah beras, baik itu beras putih maupun beras ketan. Beras ini pun kita giling hingga mencapai kehalusan yang diinginkan.
Penggunaan jenis beras yang berbeda, seperti beras pulen atau beras pera, juga dapat memengaruhi hasil akhir tepung beras.
2. Tekstur dan Sifat Fisik
Ketika kita memegang dan mengamati kedua tepung ini, kita akan segera merasakan perbedaannya.
Tepung terigu umumnya memiliki warna kuning kecoklatan, terasa lebih berat dan permukaannya agak kasar. Sifat ini sangat dipengaruhi oleh kandungan gluten di dalamnya.
Sebaliknya, tepung beras berwarna putih susu, teksturnya jauh lebih halus daripada tepung terigu, bahkan terasa agak licin di tangan. Tekstur yang halus dan ringan ini membuatnya mudah larut dan memberikan sensasi yang berbeda pada hidangan.
Selain itu, sifat fisik kedua tepung ini saat bercampur dengan air juga menarik untuk diamati.
Tepung terigu, ketika dicampur air panas, menghasilkan adonan yang kental dan lengket, mirip seperti lem. Sifat inilah yang membuatnya ideal sebagai perekat pada lumpia.
Tepung beras yang dicampur air panas akan menghasilkan tekstur yang lebih ringan dan cair, lembut dan sering kita jumpai dalam pembuatan bubur sumsum.
Sementara itu, tepung tapioka (yang sering disalahartikan dengan tepung beras oleh sebagian orang) justru akan membentuk gel kental seperti lem saat bertemu air panas dan tepung maizena akan langsung larut begitu saja.
3. Kandungan Nutrisi dan Gluten
Perbedaan paling signifikan dalam hal fungsionalitas antara tepung beras dan tepung terigu adalah kandungan gluten. Tepung terigu kaya akan protein gluten, yang terdiri dari glutenin dan gliadin.
Ketika tepung terigu dibasahi dan diuleni, protein-protein ini akan membentuk jaringan tiga dimensi yang elastis dan kuat.
Jaringan inilah yang mampu menahan gas yang dihasilkan oleh ragi atau bahan pengembang lainnya, sehingga adonan bisa mengembang dan menghasilkan tekstur roti yang empuk.
Keberadaan gluten juga memberikan sifat liat atau kenyal pada adonan mi dan pasta. Sebaliknya, tepung beras sama sekali tidak mengandung gluten.
Hal ini menjadikan tepung beras sebagai pilihan yang sangat baik bagi orang-orang yang memiliki penyakit celiac atau sensitivitas gluten.
Ketiadaan gluten ini membuat tepung beras tidak memiliki sifat elastis dan mengembang seperti tepung terigu.
Oleh karena itu, tepung beras tidak dapat digunakan sebagai pengganti langsung tepung terigu dalam resep yang mengandalkan struktur gluten untuk mengembang, seperti roti.
Namun, ketiadaan gluten ini justru memberikan keunggulan pada tepung beras untuk menciptakan tekstur yang lembut, halus dan sedikit kenyal pada kue-kue tradisional.
Dari segi nutrisi, kedua tepung ini umumnya merupakan sumber karbohidrat yang baik.
Namun, profil nutrisi spesifiknya bisa sedikit berbeda tergantung pada proses pengolahan dan jenis biji-bijian yang digunakan.
Tepung terigu utuh (whole wheat flour) tentu memiliki kandungan serat dan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan tepung terigu serbaguna (all-purpose flour).
Begitu pula dengan tepung beras, kandungan nutrisinya bervariasi tergantung pada jenis beras yang digiling.
4. Kegunaan dalam Masakan
Berdasarkan perbedaan sifat fisik dan kandungan glutennya, maka tak heran jika kegunaan tepung beras dan tepung terigu dalam dunia kuliner pun sangat bervariasi.
Tepung terigu protein tinggi sangat kita andalkan untuk adonan yang membutuhkan fermentasi ekstensif, seperti roti tawar, roti manis dan donat.
Tepung terigu protein sedang (all-purpose flour) sangat fleksibel dan bisa kita gunakan untuk berbagai macam kue, pancake, martabak dan adonan gorengan.
Sementara itu, tepung terigu protein rendah ideal untuk membuat kue kering (cookies) yang hasilnya renyah dan ringan, seperti kastengel atau putri salju.
Tepung beras, dengan sifatnya yang bebas gluten dan teksturnya yang halus, sangat cocok untuk membuat kue tradisional basah yang lembut dan legit, seperti kue lapis, putu ayu, serabi dan tentu saja bubur sumsum.
Tepung beras juga sering kita gunakan sebagai bahan dasar bihun dan kwetiau serta menjadi tambahan pada adonan gorengan untuk memberikan sensasi renyah yang berbeda.
Kelembutan dan tekstur yang sedikit kenyal adalah ciri khas hidangan yang menggunakan tepung beras.
Selain itu, kedua tepung ini juga memiliki peran penting sebagai pengental.
Tepung maizena (pati jagung) dan tepung tapioka (pati singkong) sering kita gunakan untuk mengentalkan saus, sup atau kuah kari karena kemampuannya membentuk gel.
Tepung terigu juga bisa digunakan sebagai pengental, namun biasanya menghasilkan tekstur yang lebih kental dan cenderung lengket dibandingkan maizena atau tapioka.
Tepung beras, dalam beberapa aplikasi, juga dapat memberikan sedikit efek pengental, terutama pada hidangan yang dimasak dalam waktu lama.
5. Hasil dan Karakter Produk Akhir
Perbedaan mendasar antara tepung beras dan tepung terigu tercermin jelas pada hasil akhir hidangan yang kita buat.
Penggunaan tepung terigu, terutama yang berprotein tinggi, akan menghasilkan produk panggang yang memiliki volume, struktur dan tekstur kenyal berkat jaringan gluten yang terbentuk.
Roti akan mengembang sempurna, mie akan memiliki kekenyalan yang pas dan kue kering akan terasa renyah.
Sementara itu, produk yang dibuat dengan tepung beras akan memiliki karakteristik yang berbeda. Kue basah akan terasa lebih lembut, padat dan memiliki kelembapan yang khas.
Gorengan yang menggunakan tepung beras sebagai pelapis akan terasa lebih tipis renyahnya dibandingkan jika menggunakan tepung terigu.
Tekstur kenyal yang dihasilkan tepung beras juga sangat diinginkan dalam beberapa jenis jajanan pasar, seperti cireng atau cilok (meskipun untuk cilok, tepung kanji/tapioka lebih dominan).
Ketiadaan gluten pada tepung beras juga berarti tidak ada pengembangan volume yang signifikan, sehingga hasil akhirnya lebih padat.
Kesimpulan
Memahami perbedaan antara tepung beras dan tepung terigu bukan hanya soal pengetahuan, melainkan sebuah kunci untuk membuka potensi penuh dalam kreasi kuliner kita.
Tepung terigu, dengan glutennya, adalah fondasi bagi kelembutan dan kekenyalan roti serta berbagai produk panggang yang mengembang.
Sementara itu, tepung beras, yang bebas gluten, menawarkan kehalusan, kelembutan dan kekenyalan khas yang sangat dihargai dalam kue tradisional Indonesia dan berbagai hidangan lainnya.
Pemilihan yang tepat antara kedua tepung ini bergantung pada tekstur, struktur dan rasa akhir yang kita inginkan.
Dengan pengetahuan ini, kita dapat lebih percaya diri dalam bereksperimen di dapur, menciptakan hidangan yang lezat dan sesuai dengan harapan kita.






