Perbedaan Sirloin dan Tenderloin, bagus mana

Perbedaan Sirloin dan Tenderloin, bagus mana. Mulai dari asal potongan, tekstur, kelembutan, kandungan gizi, lemak, cara masak dan rasa
Perbedaan Sirloin dan Tenderloin

Lebih bagus Sirloin atau Tenderloin

Untuk mengetahui bagian daging mana yang bagus, sebaiknya kita bahas dulu perbedaan Sirloin dan Tenderloin.

Dua potongan daging sapi yang sering menjadi primadona di meja makan kita, terutama saat menyantap hidangan steak.

Seringkali, kedua istilah ini bertukar tempat di benak banyak orang, padahal keduanya memiliki karakteristik unik yang memengaruhi rasa, tekstur, dan cara pengolahannya.

Memahami perbedaan mendasar ini akan membantu Anda tidak hanya saat berbelanja daging di supermarket atau pasar tradisional, tetapi juga saat memesan steak di restoran favorit.

Kita akan membahas secara rinci mulai dari letak potongan dagingnya, bagaimana tekstur dan kelembutannya, kandungan gizi dan lemaknya, cara memasak yang paling ideal, hingga perbedaan rasa dan aromanya.

Dengan pengetahuan ini, Anda akan menjadi lebih percaya diri dalam memilih dan mengolah daging sapi, memastikan hidangan yang tersaji selalu lezat dan memuaskan.

Mari kita mulai petualangan kuliner ini dan mengungkap segala rahasia di balik sirloin dan tenderloin.

Beda Sirloin vs Tenderloin

1. Asal Potongan Daging

Perbedaan paling mendasar antara sirloin dan tenderloin terletak pada area tubuh sapi di mana mereka berasal.

Pemahaman ini seringkali menjadi kunci utama mengapa keduanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda.

Sirloin berasal dari area punggung sapi bagian luar, membentang dari area pinggang ke punggung atas. Tepatnya, potongan ini berada di antara bagian short loin dan round.

Bayangkan bagian sapi yang tidak banyak melakukan aktivitas berat seperti berlari atau menopang beban tubuh secara konstan.

Sirloin ini memiliki beberapa bagian lagi, seperti top sirloin dan bottom sirloin, yang masing-masing memiliki sedikit perbedaan dalam kelembutan dan kadar lemaknya.

Lokasi yang relatif lebih aktif dibandingkan tenderloin inilah yang mulai memberikan petunjuk tentang tekstur dagingnya nanti.

Sementara itu, Tenderloin menempati posisi yang sangat istimewa, yaitu di bagian dalam atau pinggang sapi.

Potongan ini terletak di bawah ribs dan di depan sirloin, tepatnya di sepanjang tulang punggung bagian dalam.

Otot psoas major yang membentuk tenderloin ini adalah otot yang sangat jarang digunakan oleh sapi untuk bergerak atau menopang berat badan.

Karena minimnya aktivitas, otot ini berkembang menjadi sangat lembut dan empuk.

Posisi tersembunyi dan minimnya pergerakan inilah yang menjadikan tenderloin sebagai salah satu potongan daging sapi paling premium dan dicari.

Cek postingan: Merk Mayonaise yang sudah di Pasteurisasi

2. Tekstur dan Kelembutan

Perbedaan asal potongan secara langsung memengaruhi tekstur dan kelembutan daging, memberikan pengalaman makan yang sangat kontras.

Tenderloin adalah juaranya soal kelembutan.

Karena ototnya tidak banyak bekerja, serat dagingnya cenderung sangat halus, pendek, dan berlemak halus (marbling) yang tersebar merata.

Hasilnya adalah daging yang terasa sangat empuk, lembut, dan mudah lumer di mulut saat dimakan, terutama jika dimasak dengan tingkat kematangan medium atau medium-rare.

Kelembutan inilah yang membuat tenderloin seringkali dijuluki sebagai fillet mignon dalam dunia kuliner barat, menjadikannya pilihan utama bagi mereka yang mengutamakan sensasi daging yang lembut tanpa perlu banyak mengunyah.

Kelembutannya yang superior membuat tenderloin cocok untuk berbagai metode masak, dari dipanggang, dibakar, hingga ditumis cepat.

Berbeda dengan tenderloin, Sirloin memiliki tekstur yang cenderung lebih padat dan sedikit lebih alot. Hal ini disebabkan oleh otot sirloin yang memang lebih aktif dibandingkan otot tenderloin.

Serat dagingnya lebih terasa, dan meskipun masih tergolong empuk dibandingkan potongan daging lain seperti shank atau brisket, sirloin jelas berada di bawah tenderloin dalam hal kelembutan.

Daging sirloin memiliki tampilan yang lebih gelap dan serat yang lebih jelas terlihat, menandakan lebih banyak otot yang terlibat.

Namun, kekhasan tekstur ini justru memberikan sensasi menggigit yang memuaskan bagi sebagian orang, terutama yang menyukai pengalaman makan daging yang lebih substansial dan berkarakter.

3. Kandungan Gizi dan Lemak

Dalam hal nilai gizi, makanan dari daing sirloin dan tenderloin menawarkan profil yang sedikit berbeda, terutama terkait kandungan lemak.

Pemahaman ini penting bagi Anda yang memiliki tujuan diet tertentu atau kebutuhan kalori spesifik.

Sirloin umumnya dikenal memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan tenderloin.

Dengan sekitar 131 kkal per porsi (angka dapat bervariasi tergantung ukuran porsi dan metode masak), sirloin menawarkan 22,1 gram protein dengan hanya sekitar 4,08 gram lemak.

Kandungan lemaknya yang relatif lebih sedikit menjadikannya pilihan yang sangat baik bagi mereka yang sedang menjalani program pembentukan otot atau caloric deficit.

Tingginya protein dalam sirloin sangat mendukung proses regenerasi dan pertumbuhan massa otot, menjadikannya favorit di kalangan pegiat kebugaran.

Di sisi lain, Tenderloin memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi, mencapai sekitar 18,2 gram per porsi dengan total kalori sekitar 274 kkal.

Meskipun kadar proteinnya sedikit lebih rendah dari sirloin, yaitu sekitar 21,8 gram, kandungan lemak yang lebih tinggi inilah yang berkontribusi pada kelembutan khasnya.

Lemak yang tersebar di dalam serat daging (marbling) inilah yang meleleh saat dimasak, memberikan kelembapan dan cita rasa yang kaya.

Karena kandungan kalorinya yang lebih tinggi dan rasanya yang kaya, tenderloin seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menambah berat badan atau sekadar memanjakan diri dengan hidangan steak yang mewah dan beraroma.

4. Cara Memasak yang Ideal

Memahami karakteristik tekstur dan lemak dari sirloin dan tenderloin akan membantu kita menentukan metode memasak yang paling ideal untuk mengeluarkan potensi terbaik dari masing-masing potongan.

Untuk Tenderloin, kelembutannya yang luar biasa berarti ia tidak memerlukan waktu memasak yang terlalu lama.

Memasaknya terlalu lama justru berisiko membuatnya kering dan kehilangan kelembutannya. Metode memasak cepat seperti memanggang (grilling), membakar (searing) di wajan panas, atau menumis sangat cocok untuk tenderloin.

Tingkat kematangan medium-rare hingga medium seringkali direkomendasikan untuk tenderloin agar kelembutan dan jus dagingnya tetap terjaga optimal.

Keberadaan fat marbles yang agak lebih banyak juga membantu menjaga kelembapan daging selama proses memasak.

Sementara itu, Sirloin yang memiliki tekstur lebih padat dan serat yang lebih terasa membutuhkan sedikit lebih banyak perhatian dalam hal waktu memasak.

Daging ini umumnya membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan tenderloin untuk mencapai tingkat kematangan yang diinginkan.

Teknik memasak seperti memanggang, membakar, atau bahkan memanggang dalam oven (roasting) sangat sesuai untuk sirloin.

Perlu diingat bahwa komposisi fat marbles pada sirloin lebih jarang, sehingga penting untuk tidak memasaknya terlalu matang agar tidak menjadi kering.

Memasak sirloin hingga tingkat kematangan medium atau medium-well seringkali menjadi pilihan yang baik untuk menyeimbangkan kelembutan dan cita rasa khasnya.

5. Rasa dan Aroma

Perbedaan asal, tekstur, dan cara memasak pada akhirnya bermuara pada preferensi rasa dan aroma yang ditawarkan oleh sirloin dan tenderloin.

Tenderloin menawarkan pengalaman rasa yang sangat halus dan lembut.

Saat disantap, daging ini terasa lumer di lidah, terutama jika dimasak dengan kematangan yang tepat seperti medium atau medium-rare.

Aromanya tidak terlalu kuat atau liar seperti beberapa potongan daging lainnya.

Keseluruhan sensasi ini menciptakan pengalaman makan steak yang elegan dan santai, cocok bagi mereka yang lebih menikmati kelembutan daripada rasa daging yang intens  .

Tenderloin seringkali menjadi pilihan bagi penikmat steak yang ingin merasakan kualitas daging murni tanpa terlalu banyak dominasi rasa.

Di sisi lain, Sirloin menyajikan cita rasa daging yang lebih kuat dan khas.

Meskipun teksturnya lebih alot dan membutuhkan sedikit usaha ekstra saat mengunyah, sensasi inilah yang justru dicari oleh banyak penggemar daging.

Kekuatan rasa ini berasal dari otot yang lebih aktif dan struktur serat yang lebih terasa. Bagi penikmat yang menghargai karakter daging yang otentik, sirloin menawarkan kenikmatan tersendiri.

Aroma sirloin juga cenderung lebih kuat dan daging dibandingkan tenderloin, memberikan pengalaman kuliner yang lebih substansial dan memuaskan indra penciuman.

Kesimpulan

Baik sirloin maupun tenderloin menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda namun sama-sama memuaskan.

Tenderloin, dengan kelembutan superior dan rasa yang halus, adalah pilihan premium untuk kemewahan dan kemudahan disantap.

Sirloin, dengan tekstur yang lebih berkarakter dan rasa daging yang lebih kuat, memberikan sensasi makan yang lebih substansial dan memuaskan bagi penggemar daging otentik.

Memahami kelima perbedaan kunci ini – asal potongan, tekstur, gizi, cara memasak, dan rasa – akan memberdayakan Anda untuk membuat pilihan yang tepat sesuai selera, tujuan kuliner, bahkan kebutuhan nutrisi Anda.

Kini, Anda siap menjelajahi dunia steak dengan lebih percaya diri!